Raya Yang Berbeda
Hari raya kali ini berbeda dengan hari raya tahun lalu, kini orang-orang di iringi dengan ketakutan dan kesedihan yang menjadi satu. Dunia sedang tidak baik-baik saja, menegur manusianya agar senantiasa mengingat sang maha kuasa dan saling menjaga sesama.
Tangis karena tak bisa bersua dengan keluarga tumpah menjadi satu menjadi haru yang membiru. Semua bersua hanya via suara dan video yang disambungkan dengan orang orang terkasih. Yang tidak bisa bertatap muka hanya via suara seraya merenung. Andai dunia tidak sedang seperti ini. Carut marut semuanya
Segalanya dibatasi untuk keselamatan katanya. Hari-hari yang harusnya di penuhi dengan canda tawa karena berkumpul dengan orang orang terkasih kini tertunda.
Semua merasakan hal yang sama.
Yang tak bisa pulang hanya bisa menangis dipojok kamar sambil mengenang sebuah kisah bahagia bersama. Yang di rumah menanti dengan opor ayamnya walau tak pernah dimakan olehnya. Opor ayam tetap dibuat sebagai tanda bahwa hari raya telah tiba. Disebut juga hari kemenangan karena sudah bisa berperang dengan hawa nafsu selama ramadhan beberapa hari lalu.
Opor ayam, ketupat, rendang selalu menjadi menu andalan.
Berkumpul, bersimpuh, tertawa, saling berfoto ria untuk mengabadikan momen yang jarang terjadi.
Semoga yang menjadi doa segera terkabul dan kita bisa menjadi manusia seperti pada umumnya.
Komentar
Posting Komentar