Selamat Menua
Selamat menua wahai diri sendiri
Pesan yang tak pernah berubah dari ulang tahun ke 16 tahun sampai sekarang "udah gede, jangan manja"
Pesan yang mungkin hanya sebatas untuk mengingatkan, namun sungguh menjadi pengingat bahwa mendewasakan diri itu memang harus. Sudah saatnya menata masa depan katanya, harus mulai bisa memilah dan memilih, bukan perkara masa muda untuk hura hura saja.
Menjadi dewasa memang terkadang menyebalkan, tetapi juga mengesankan. Dulu sewaktu masih kecil ingin sekali segera tumbuh menjadi orang dewasa, agar tidak diomeli orang tua karena kita suka teledor. Bisa bermain tanpa dipanggil untuk tidur siang. Lucu ya ketika mengingat masa kecil yang menggemaskan, bermain pasaran "masak masakan" Membuat makanan dari gulma yang tumbuh liar di pekarangan rumah, membuat rumah rumahan dari daun pisang dan batang pohon. Sore bersiap untuk pergi mengaji ke TPQ, lalu jajan sosis goreng dipinggir tempat mengaji. Keras kerasan suara pada saat berdoa dan kalau dipikir sekarang "astaga memalukan sekali." Tetapi memang hal hal seperti itu perlu dikenang bahwa kita pernah dimasa itu, di masa yang katanya belum mengerti apa apa.
Kini sudah beranjak besar sampai saudara dan tetangga saat bertemu dengan kita berkata "Ya ampun, dulu lo kecil banget kamu, kalo mau diajak mesti nangis." Terus kita mikir "emang iya ya?" Kita sulit mengingat masa itu karena memang sudah lalu, sudah tertumpuk tebal oleh kejadian yang berubah setiap harinya.
Tulisan ini cukup memberi ingatan bahwa kita pernah dimasa kecil sebelum kita tumbuh seperti sekarang ini.
Selamat menjadi dewasa dijaga pikirannya biar nggak stress, dijaga hatinya biar nggak gampang rapuh. Segala hal perlu dijaga agar selalu tertata dan terjaga seutuhnya.
Selamat :)
Ternyata perjalanan menuju dewasa seperti ini ya, banyak urusan di kepala dan rasa rasa penuh di hati yang menganga ingin berkata bahwa perasaan nya sudah penuh dengan kecewa.
Ternyata belajar menjadi dewasa bukan perkara mudah seperti membalikan telapak tangan, ternyata belajar menjadi dewasa butuh waktu yang cukup lama seperti hari ini yang berjalan dengan sendirinya. bertambah umur berkurang usia bertambah beban berkurang suara. Diam dalam banyak tingkah, berbicara pada diri sendiri untuk selalu sabar menanti, menanti bahwa dunia ini memang hanya sementara. Hanya disuruh berjalan seperti hamba pada umumnya. Menjadi egois adalah ketidakinginan yang selalu menjadi nyata. Tidak enak hati adalah perkara menyebalkan yang selalu dirasakan.
Sebelum saya menulis tulisan ini saya sempat duduk di sudut ruang, saya diam sejenak dan mulai berbincang dengan diri saya sendiri. Berbicara, sudah siapkah untuk memulai hari dengan sesuatu yang baru, dengan hal yang pasti akan beragam walaupun sesuatu hal memang terjadi setiap hari, namun menurut saya ini adalah langkah yang berbeda. Saya berpikir diumur yang menginjak kepala dua ini akan ada kejutan apa lagi ya, setelah kejutan kejutan sebelumnya.
Diumur 16 tahun saya berada pada fase patah hati yang sepatah-patahnya dengan segala kegalauan anak ABG yang mungkin kalau dipikir sekarang "dulu itu ngapain sih, bisa bisanya." Tapi ya nggak papa itu namanya fase, fase melewati masa yang membuat ilfeel sendiri. Diumur 17 tahun yang sibuk dengan segala ambisi anak SMA yang ingin menjelajah dunianya sendiri, banyak bermain, banyak menjelajah segala hal, mulai melupakan patah hati yang sebenarnya belum sembuh seutuhnya tetapi sudah lebih baik dari yang sebelumnya. Diumur 18 tahun yang mulai serius dengan langkah apa yang harus dilakukan. Memulai hal serius katanya, mulai menata hal yang ingin di perjuangkan, berjuang menuju masa setelah SMA nantinya, dan disitu masa patah hati yang sebenarnya, ditolak berbagai universitas padahal sudah berusaha sebaik mungkin dengan segala hal yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari bahkan jauh-jauh bulan, yang pokoknya sudah lama di persiapkan. Disitu merasa patah hati yang sebenarnya.
Sudah merasa sungguh namun berakhir acuh, sudah mencoba berbagai hal namun hasilnya sama saja, untuk kata-kata penenang "mungkin belum rejekinya, coba lagi ya." Kalau diri saya sendiri protes "padahal kalau dipikir usaha saya sudah lebih maksimal lho dari yang lain." Egoisnya saya waktu itu merasa bahwa diri sudah berusaha semaksimal mungkin tetapi kenapa hasilnya tidak sesuai dengan apa yang diharap. Namun dari situ saya belajar bahwa "yang belum jadi rejeki mu jangan dipaksakan." Mungkin akan diganti dengan yang lebih baik. Benar saja, orang-orang baik yang selalu ada membuat saya berani untuk melangkah lagi dari saya yang sebelumnya ingin menyerah saja, pada akhirnya saya tetap berjalan.
Diumur 19 saya mulai belajar memikul beban yang berat, memulai menambah porsi pikiran yang saya buat sendiri, memikirkan segala hal dengan berlebihan bahkan sesuatu yang tidak perlu saya pikirkan saya pikirkan dengan dalam, yang membuat saya mudah sekali tersentuh, mudah sekali merasa lemah. Walau tidak pernah saya tunjukan pada umum, sedih saya nikmati sendiri. Yang pada akhirnya saya menjadi manusia egois, percaya bahwa masalah bisa saya selesaikan sendiri padahal tidak, tetap butuh orang lain sebagai teman.
Diumur 19 saya banyak bertengkar dengan diri saya sendiri karena seperti apa yang di kepala saya sulit untuk dikendalikan, tetapi seperti ada sisi lain yang ada pada diri saya berkata; bahwa saya harus tetap berjalan, tidak apa pelan asal sampai pada tujuan.
Di umur yang mulai berkepala dua ini. Ketakutan sering saya pikirkan, ada kejutan apa lagi diumur saya yang mulai menginjak kepala dua ini, apakah saya bisa menjalaninya tanpa ada tangis? Sepertinya tidak mungkin. Jarak kebahagian dan kesedihan itu tipis. Dengan dewasa baru, yang harus bisa lebih baik dari yang dulu, tidak harus lebih baik dari orang lain, karena lebih baik dari kita sebelumnya sudah cukup baik. Semoga segala hal bisa terlewati dengan baik, bisa menerima hal tanpa berpikir ini nanti gimana ya?
Tetap berjalan walau pelan, asal sampai. Hidup di dunia bukan melulu tentang perlombaan namun perjalanan yang akan memberikan pengalaman berharga dan pelajaran yang harus dipelajari setiap harinya.
Terima kasih untuk semua orang-orang baik yang bisa menerima dengan segala kekurangan yang saya punya.
Peluk erat :')
Dewasa itu perlu berjalan, perlu banyak jatuh, perlu banyak tangis agar bisa sadar bahwa ini memang tentang belajar. Memilah mana yang baik dan mana yang belum baik. Kata-kata memang terlihat mudah untuk dilakukan, namun untuk hal nyata butuh sesuatu yang sungguh bukan hanya bergema bergemuruh dan bergejolak saja.
Sudah berkepala dua ternyata, sudah banyak hal yang terlewati tentunya. Ternyata yang dikira sangat sulit dilewati bisa terlewati begitu saja, walau pasti ada tetesan air mata yang menjadi teman dalam perjalanan. Isi kepala yang semakin beragam ketakutan yang semakin kuat namun selalu ada keberanian yang menjadi benteng penguat dalam perjalanan.
Selamat berjalan kembali dengan banyak beban yang akan dipikul dalam perjalanan. Istirahat sebentar untuk memulihkan hati yang mencoba merayu untuk berhenti, berdiskusi dengan lembut bahwa ini perjalanan yang harus ditempuh setiap hari. Lelah sudah pasti tetapi berhenti untuk berbalik arah bukan hal yang tepat untuk dilakukan.
Selamat menempuh perjalanan baru
Semangat untukku dan untukmu yang membaca sampai akhir
Peluk jauh :')
Diumur 20 ini ada juga yang siap lahir ke dunia yaitu naskah buku saya yang berjudul 'Rehat' sudah saya selesaikan, dengan berbagai proses panjang dan terima kasih saya ucapan kepada orang-orang baik yang mau membantu dalam proses penulisan dan memberikan masukan positif sehingga terciptanya tulisan sederhana manusia yang sedang belajar menulis ini.
Rehat hadir juga sebagai hadiah untuk diri saya sendiri karena sudah berani melewati hal-hal luar biasa selama ini.
Semoga nanti bisa menjadi teman dikala Rehatmu.
Instagram : @mutmainnahqolbi
Twitter : @Mutmainahqolbi1
Komentar
Posting Komentar