Tentang kamu, Run
Ruun, bukankah perasaan tidak untuk ditutup tutupi? Namun kenapa tidak ada penjelasan dari mulutmu. Aku sudah lelah dalam mengira-ngira, Run. Sikapmu masih saja manis namun aku belum tau tentang isi hati dan kepalamu. Tak bisakah berterus terang? Aku sudah mulai lelah menunggu. Tangis menjadi teman jikalau aku merindukan mu. Dan apakah jika aku sedang merindukan mu, kamu juga merindukanku?
Pertanyaan itu selalu muncul dalam pikiranku, Run. Tak bisakah kamu jawab pertanyaanku?
Kamu datang lalu pergi dan datang lagi tanpa permisi. Bukankah itu tidak sopan jika dilakukan oleh manusia bukan? Bukankah begitu, Run.
Jika kamu terus berkata tentang nanti aku bisa saja berkata kita cukup usai disini. Namun Hanya ucap bukan keinginan hati. Hati meronta memintamu kembali Run, dan sampai saat ini kata untuk kapan kamu kembali belum terdengar dari ucapanmu.
Ruun, jika harus menunggu tentang nanti aku harus menunggu sampai kapan?
Kaki sudah lelah untuk berdiri namun hati masih saja menanti. Tak ingatkah jalan pulang? Jalan nya masih sama, Run. Tidak berkelok ataupun becek. Semuanya masih sama. Masih sama seperti saat kamu menemui ku.
Haruskah ku tunjukan lagi jalannya
Barang kali kamu lupa.
Komentar
Posting Komentar