Nge-Lantur

Ternyata tahun 2020 tinggal beberapa bulan lagi, suatu kenyataan yang nggak pernah di bayangin sebelumnya kaya "yang bener aja ini 2020 gini-gini aja?" kok kaya cepet banget, kayaknya baru kemarin tahun baru-an, kayaknya baru kemarin liburan sama temen-temen. Kok sekarang di rumah aja dan kegiatannya monoton gitu-gitu aja.
 
Kuliah online kaya libur kuliah, rasanya pengen nyibukin diri tapi kok rasanya nggak puas-puas. Sekarang lagi di kelilingi pikiran yang "ini pandemi mau sampe kapan sih?" kesel sendiri aja gitu, kok bisa-bisanya ya sampe kaya gini.
 
Ekonomi, pendidikan, wisata semuanya macet. Korban yang terus bertambah padahal rasanya udah mengikuti protokol yang ada, ya walaupun masih ada yang melanggar. Sampai pada akhirnya upaya PSBB mulai di aktifkan lagi karena semakin banyak korban yang terdata. 

Pertanyaan besar 
INI MAU SAMPAI KAPAN? 
belum cukup kah? Indonesia tercatat menjadi negara dengan korban virus terbanyak. Mau sampai kapan? 

Waktu pertama kali dapat kabar bahwa kampus sudah memutuskan untuk meliburkan dan mengganti menjadi kuliah online. Aku pulang, karena memang orang rumah sudah menyuruh untuk segera pulang. karena takut akan terjebak lama di perantauan dan tidak bisa ikut hari raya bersama karena hari raya tahun lalu sudah tidak bisa pulang. 

Panik, tentu. 
Sampai aku lupa kalau pesan tiket untuk tanggal 31 tapi tanggal 30 aku sudah bersiap untuk ke terminal. Ibu kost sudah membuatkan ku bekal dan sudah pamit untuk segera pulang ke kampung halaman. 
Setelah sampai di terminal, cek keberangkatan kok tidak ada rute ke daerahku. Kok bisa nggak ada. 
Ternyataaa, aku salah jadwal. 
Panik membuat aku lupa kalau hari itu masih tanggal 30. Aku kembali pulang ke kost dengan perasaan malu tapi ya mau gimana lagi. Lupa nggak ada obatnya. 
Ibu dan bapak kost tertawa mendengar cerita kalau hari ini salah jadwal, sudah dibuatkan bekal, sudah pamit. Terus balik ke kost. Sepanik itu. 

Kok saya jadi rada emosi ya nulisnya, oke. 
Sekarang pelan-pelan. 
Jadi, keesokannya aku pulang. Dibuatkan bekal kembali dan pamit lagi. Kali ini tidak akan salah jadwal.
Dalam perjalanan hanya takut, namun mencoba tenang. Jangan berhenti dzikir sama sholawat kalau sedang di perjalanan. Selama berjalanan hanya diam, tidur, memandang sekitar dari balik jendela. Tangan sedekap tidak berani menyentuh apapun, hanya sesekali mengobrol dengan teman sebangku yang kebetulan satu kota namun beda daerah. 

Setelah sampai di rumah, sudah di sambut aparat desa. Wahh di sambut. 
"Di Sambut Untuk di Semprot"

Sudah kaya hama saja, tapi demi keamanan bersama katanya. Setelah beberapa hari di rumah dan isolasi mandiri alhamdulillah baik-baik saja. Tidak ada gejala serius namun tetap di datangi petugas untuk di cek apakah baik-baik saja. 
Dan aku kira, dirumah hanya sebentar. Setelah hari raya akan balik lagi ke perantauan. Ternyata ekspetasi ku salah. Keadaan punya kenyataan tidak bisa di rubah. Setelah di hitung-hitung aku dirumah sudah hampir setengah tahun. 
Kok bisa ya? 
Ini saya kok ceritanya sampai ke sini membahas pulang kampung yang ternyata lama sekali, padahal niat saya hanya mau sambat tentang pandemi yang nggak segera usai. 

Tapi, ada yang bilang "Alhamdulillah adanya pandemi, bisa berkumpul dengan keluarga lebih lama" 
Bisa sedikit menjadi penenang saat semuanya terasa pelik, dan semuanya sedang tidak berjalan dengan baik. 
Semoga segera usai, semoga segera kembali seperti semula. 

Komentar

Postingan Populer