Rin Run 5

"Rin, kalau aku suka kamu gimana?"

Ucapan Bayu langsung membuat ku tersedak dan berhenti untuk mengunyah makanan ku, Bayu yang sigap langsung mengambilkan minum untukku, kita duduk berdua di cafe tempat biasa kami nongkrong kala penat dan bosan. Menikmati pemandangan dari lantai atas cafe. mengerjakan tugas yang selalu bisa di kerjakan Bayu, menikmati kopi susu kesukaannya dan cokelat hangat kesukaanku. 

"Kamu nggak papa, Rin? Maaf aku tiba-tiba aku ngomong kaya gitu tadi."
"Kamu kenapa tiba-tiba bilang gitu sih, Bay. Bercandanya nggak lucu sama sekali" ucapku pada Bayu
"Siapa yang bercanda, Rin. Aku beneran" jelasnya 
"Kamu lagi praktek nembak cewek ya, terus aku yang jadi korbannya buat jadi bahan percobaan"
"Riiin, enggak" dia menatap ku dengan matanya yang tertuju langsung ke mataku

"Bay, hal kaya gini nggak bisa di buat main-main, perasaan bukan untuk di mainin, Bay."

Aku mencoba menjelaskan bahwa hati bukan untuk main-main, aku tau. Sikap Bayu selama ini selalu baik, selalu mengerti apapun, yang selalu ada di saat butuh. Tetapi aku tidak mudah untuk memberikan hati begitu saja, menaruh perasaan pada orang yang tidak tepat adalah malapetaka yang dibuat dengan sengaja. Cerita dari Dona waktu lalu cukup membuatku tau, bahwa Bayu memang menyimpan perasaan padaku dari beberapa bulan lalu. Dari sikap nya sudah mulai bisa di tebak. Bay, kamu tau. Ada luka yang sampai saat ini belum hilang sepenuhnya. Ada hati yang harus tetap dijaga. Semesta belum bisa membuat ku menerimamu begitu tulus.

"Rin, apa selama ini aku keliatan main-main sama kamu? Enggak kan, Rin?" tanyanya dengan nada serius 

"Bay, aku butuh waktu" ucapku seraya menatap nya
"Waktu apalagi, Rin? Aku udah sering sama kamu, aku sedikit banyak udah tau tentang kamu. Walaupun belum sepenuhnya."

Hari-hari banyak ku lalui dengan Bayu selain dengan Dona juga. Perasaan seperti mati rasa, Bay. Semua tentang Harun belum sepenuhnya hilang, bahkan semakin ingin di hilangkan. Semuanya seperti berbalik arah, memenuhi isi kepala tanpa sekat. Bay, aku tau kamu melakukan semuanya sudah sangat tulus. Tetapi apakah perasaan yang harus menjadi imbalannya? Bay, banyak hal yang harus aku selesaikan selain memulai tentang perasaan.

"Bay, aku sudah pernah cerita belum, kalau aku masih menyimpan perasaan untuk orang lain?"

"Belum, Rin. Tapi aku tau cerita itu, tau siapa sosok yang sampai saat ini belum bisa buat kamu lupa. Rin, hal seperti itu bukan hal yang harus di pertahankan." Dia kembali menatapku dengan lembut 

"Aku tau, kamu pasti sulit. Tapi tolong beri aku ruang di hati kamu, sebagaimana tentang Harun yang tetap saja kamu simpan, bahkan sampai saat ini kamu belum  tau bagaimana kelanjutannya, kan?"

Dia kembali membuat ku terdiam akan ucapannya barusan, ada benarnya. Tetapi Bayu juga tidak bisa memaksakan hal dengan mudah. 

"Bay" aku berputar arah ke hadapannya
"iya, Rin? 

"Aku kira kita bakalan tetep kaya gini, bakal tetap jadi teman tanpa melibatkan perasaan apapun"

"Nggak akan mungkin, Rin. Nggak ada dua manusia apalagi laki-laki dan perempuan yang sering bersama lupa akan perasaanya sendiri, nggak ada, Rin"

Aku kembali terdiam, apakah benar yang di ucapakan Bayu tadi, aku sering kali dibuat senyum sendiri karena sikap Bayu. Kadang kala juga rindu untuk sekedar bertemu lalu duduk di kursi taman, tempat sederhana di bawah pohon. Bercerita banyak hal bahkan lupa hari sudah begitu larut malam. Hampir semua cerita pernah di dengar oleh Bayu, begitupun cerita Bayu yang sering kali membuat ku penasaran akan kehidupannya. Bahkan sampai lupa ada Harun yang masih menjadi tokoh utama dalam urusan hati. Tanpa henti dan tak berganti. Apakah Bayu adalah sosok baru yang akan menggantikan Harun. 

"Bayuu, beri aku waktu ya."

Komentar

Postingan Populer