Cerita Menuju Pulang
Mau cerita tentang perjalanan menuju pulang ke rumah bulan Maret lalu.
Bulan Maret puncaknya Virus covid 19 mulai gencar di Indonesia. Masyarakat panik dengan keadaan. Untuk keluar rumah pun harus merasa was-was karena takut jika tiba-tiba virus menyerang tubuh. Masker yang mulai langka, yang biasa dibeli dengan harga 8ribu berisi lima masker sempat melejit hingga ratusan ribu per-box nya. Vitamin yang biasa di beli tanpa minimum pembelian menjadi berkurang dengan maksimal pembelian hanya dua kaplet saja.
Memang virus ini sangat merubah segalanya, menjadi tidak karuan. Segala hal yang biasa dilakukan tanpa berpikir akan terjadi apa-apa kini menjadi momok menyeramkan yang menghantui masyarakat.
Pun denganku, sehari setelah pengumuman dari kampus bahwa sistem belajar mengajar dilakukan secara daring. Aku langsung menghubungi keluarga dirumah, orang tua langsung menyuruh untuk pulang tanpa berpikir bahwa tiket perjalanan tidak bisa dipesan dadakan. Minimal harus sehari sebelum keberangkatan. Perasaan panik, karena ada pemberitaan yang membuat segalanya menjadi kalut.
Ingin naik pesawat. Karena menurutku transportasi paling aman daripada kereta ataupun bus. Setelah mengecek harga tiket, pesawat nya memanglah aman, yang tidak aman harga tiketnya. Menciut sudah. Akhirnya setelah pertimbangan yang lumayan membuat diri merasa panik, aku membeli tiket bus andalan yaitu Rossalia Indah. Segera aku pesan untuk kepulangan esok hari. Setelah pembelian tiket entah sugesti atau karena apa. Dada langsung berasa sesak dan suhu badan naik. Perasaan khawatir langsung muncul tidak karuan.
Membereskan semuanya mulai dari baju dan keperluan lainnya. Tentunya membersihkan kamar kos sebelum pulang, pamit dengan Ibu kos bahwa esok akan pulang ke kampung halaman.
Perasaan panik masih saja di rasa sebelum pulang, takut jika diperjalanan terjadi hal yang tidak diinginkan. Pikiran sudah entah kemana.
***
Keesokan harinya sekitar pukul 10.00 aku menghubungi teman untuk mengantar ke terminal bus Rossalia Indah. Ibu kos yang selalu pengertian membawakan bekal untuk makan di perjalanan katanya, padahal di Rossalia sudah ada jatah untuk makan dua kali. Karena sudah dibuat kan tidak mungkin menolak. Pukul 10.30 berangkat ke terminal karena pukul 11.00 bus sudah harus berangkat. Karena takut bekal yang dibawakan Ibu kos tadi tidak dimakan dan mubadzir, akhirnya aku kasihkan ke temanku.
Selama perjalanan masih saja merasa panik, deg-degan. Panik bagaimana jika di perjalanan nanti ada hal yang tidak diinginkan. Barang bawaan tidak banyak hanya satu ransel dan satu tas kecil untuk menyimpan ponsel dan uang. Memakai kaos kaki, masker dan menyipkan sarung tangan. Karena untuk berjaga-jaga kalau di perjalanan nanti menyentuh kursi/yang lainnya. Agar tidak bersentuhan langsung dengan kulit.
Sampai di terminal aku langsung turun, ucap terima kasih kepada teman karena sudah mau direpotkan untuk mengantar. Ia langsung ku suruh pulang karena kalau harus menunggu berangkat takut tambah merepotkan.
Langsung masuk dan cek in tiket. Petugasnya ramah dan melayani dengan baik. Setelah ingin cetak tiket Mbak-mbak yang bertugas nampak kebingungan di depan komputer. Dan berbicara dengan Bapak yang bertugas disampingnya. Bapak nya ikut mengecek rute perjalanan. Seperti nya rute perjalanan Malang-Lampung pukul 11.00 tidak ada. Petugas nya langsung bertanya
"Mbak, ini benar tiketnya berangkat hari ini?"
"Iya, Mbak. Hari ini, pukul 11.00." Takut katinggalan bus, tetapi mana mungkin kan sekarang belum menunjukan pukul 11.00 masih sekitar 10 menitan lagi.
"Tapi setelah dicek disini tiket perjalanannya untuk tanggal 30, Mbak."
Memangnya sekarang tanggal berapa?
Aku langsung cek tanggal di ponsel. Tarik napas daaaaan, hari ini masih tanggal 29 Maret, sedang tiket yang dipesan untuk tanggal 30. Malu, kesal, panik dan ingin menertawakan diri sendiri berkumpul menjadi satu.
Untung saja petugasnya ramah dan tidak menunjukkan rasa kesal nya karena meladeni calon penumpang yang lupa tanggal ini. Panik membuat segalanya menjadi kalut lupa akan hal yang seharusnya bisa cek kembali.
Teman yang tadi mengantarkan sudah terlanjur pulang, jadi memutuskan untuk memesan ojek online. Menunggu beberapa saat di kursi tunggu depan. Setelah duduk, beberapa menit kemudian ada ojek online yang datang dan langsung berhenti di depan tidak jauh dari aku duduk. Pesan masuk dari aplikasi ojek online
"Mas, dimana? Saya sudah sampai ditempat penjemputan."
MAS??????
MAS??????
MAS??????
Sebenarnya sudah biasa bahkan sering kalau di panggil Mas ketika memesan ojek online, barangkali nama ku sekilas seperti cowo "Mutmainah Qolbi" dan waktu dibaca sekilas jadi "Muhammad Qolbi."
Aku langsung menghampiri Bapak ojek onlinenya
"Atas nama Mutmainah Qolbi ya, Pak?"
"Loh, saya kira yang pesan Mas-mas, maaf ya, Mbak."
"Iya, Pak. Nggak apa."
Dalam perjalanan pulang aku yang masih tidak menyangka bakal lupa tanggal, ingin tertawa tapi masih dalam perjalanan pulang dan bersama Bapak Ojol. Bapaknya ramah, mengajak ngobrol selama di perjalanan menuju kos. Masih saja ingin menertawakan diri sendiri, malu nanti pasti bakal ditanya kenapa kok balik lagi, kok bekal yang tadi dibawa sudah tidak ada. Dan benar saja setelah sampai di gang kos. Aku berjalan menuju gerbong masuk. Ibu yang berjualan di warung depan kos tiba-tiba langsung kaget melihatku balik lagi
"Loo kamu kok balik lagi, katanya mau pulang." Suaranya pasti terdengar dari dapur Ibu kos
"Hehe salah hari, Buk. Masih besok ternyata berangkatnya." Responnya?
"Looo kok bisa e lupa hari" sambil tertawa, ibunya memang receh. Warungnya langgananku untuk beli mie instan dan sosis karena kalau warung di luar gang harus berjalan agak jauh.
Setelah membuka gerbong dapur, benar saja Ibu dan Bapak kos sedang di dapur.
Sontak langsung kaget
"Kok balik lagi?"
"Hehe salah tanggal, Buk. Masih besok ternyata berangkatnya."
"Loo kok bisa see, salah tanggal." Dengan logat Malangan dan lanjut dengan tawanya
"Nggak sabar ketemu sama Ibu dirumah ta, kok sampe salah tanggal." Saut Bapak kos
"Mboten, Pak. Panik. Sampe lupa tanggal."
***
Sampai dikamar kos masih tidak menyangka juga, mimpi apa semalam kok bisa lupa tanggal.
Tiba-tiba pesan masuk dari temanku yang kuliah di Malang juga tetapi sudah pulang duluan ke Lampung
"Mah, sampe mana?" Jangan tanya kok manggilnya Mah, itu panggilan dulu sewaktu tinggal di asrama "Mamah"
"Haha masih dikos, lupa tanggal, panik."
"Jangan bilang kalo kamu udah ke terminal terus balik lagi." Balasnya
"Haha iya aku udah sampe terminal tadi, pas dicek kok nggak ada keberangkatan di jam 11.00, ternyata bukan hari ini, masih besok."
"Kok bisa seee."
Selang beberapa jam pesan masuk lagi
"Dek, udah sampe mana?" Pesan dari kakak ku
"Masih di kos, lupa tanggal. Tadi udah ke terminal pas dicek ternyata bukan hari ini. Masih besok berangkatnya. Panik, Mas. Lupa semua wess." Dengan emoticon menangis dan tertawa. Menangis karena lupa nggak cek tanggal dulu, tertawa karena menertawakan diri sendiri.
Kakakku yang tidak kalah heran dan ikut menertawakan
"Jangan panik, Dek. Nggak papa. Bismillah insya Allah aman."
Selang beberapa menit pesan masuk dari teman yang mengantarkanku tadi
"He, udah berangkat ta kamu?"
"Hahaha aku salah tanggal, ternyata bukan hari ini berangkatnya. Masih besok."
"Hish kok bisa see, arek kok."
"Lupa nggak ada obatnya, panik. Besok tolong anterin aku lagi yaa."
"Hmmm, iyaa."
***
Hari ini tidak akan salah hari ataupun tanggal.
Dengan jam yang sama aku berangkat. Berjalan menuruni tangga ternyata Ibu kos sudah dibawah dengan bingkisan di tangan nya
"Ini bekalnya dibawa lagi, buat makan dijalan. Ibu cuma bisa bikinin bekal. Kamu inilo kok bisa salah tanggal."
"Loh, Bu. Kok repot-repot buatin bekal."
"Nggak papa, buat makan di bus. Kamu apa sudah makan?"
"Sudah, Bu. Tadi bikin mie."
"Yawes ati-ati lo yaa"
"Enggah, matur suwun."
***
Temanku sudah di depan gang, bersiap ke terminal.
"Ini, bekalku dari Ibu kos makanen lagi ya. Nanti pasti nggak aku makan ini bekalnya pas di dalem bus. Mending tidur."
"Nggak usah, kamu bawa ae. Buat makanmu nanti."
"Enggak, aku nggak selera makan kalo di perjalanan. Kalo kamu nggak mau makan kasihin ke temenmu yang mau."
"Yawes yawes iya."
Sampai di terminal aku langsung cek ke loket pemberangkatan. Keberangkatan pukul 11.00
Aku menunggu di kursi depan, sambil menunggu bus keluar. Setelah duduk lama dan bus belum juga keluar, aku yang duduk sendirian, dan tidak ada teman mengobrol. Ada mbak-mbak yang sedang bercanda dengan temannya. Aku mencoba mengajak berbincang dan bertanya akan pulang menuju kemana
"Mbak, mbaknya mau perjalanan kemana?" Tanyaku
"Ke Lampung, Mbak. Mbaknya kemana?"
"Loo sama, ke Lampung juga."
Setelah banyak mengobrol sampai pada obrolan
"Mbaknya ini kuliah apa gimana?"
"Aku mondok, masih mau daftar ini ke UIN kalo nggak Unisma."
"Ooh Maba, emang dulu sekolahnya dimana?"
"Iya, dulu di UIN Raden Intan."
Aku bingung, katanya masih mau daftar di UIN kalo nggak Unisma. Kok ini pernah di UINRIL. Aku yang masih loading dan belum nge-cun kalau dia akan lanjut S2 di Malang.
"Mbaknya mau lanjut S2 ta, astagfirullah maaf, Mbak. Kirain masih mau daftar maba S1 hehe."
Setelah ngobrol panjang dan ngalor-ngidul, dan sampai pukul 13.00 bus baru keluar. Setelah ditanya tenyata ada miskom antara bus satunya yang keberangkatannya dari Blitar, yang dari Blitar sudah berangkat dari pukul 11.00 tadi dan kini sudah berada di terminal selanjutnya, aku lupa apa namanya.
Aku masuk ke Bus, dan setelah masuk:
"Asik!! Busnya nyaman. Tidak seperti bus biasanya." Dalam batinku
Bus yang dipakai lebih besar dan nyaman dengan tempat duduk yang lebih nyaman juga. Aku duduk di dekat jendela bersama mbak-mbak juga, tetapi bukan Mbak yang tadi. Setelah bertanya dan banyak ngobrol dia mau perjalanan pulang ke Lampung juga. Dan ternyata satu kampus tetapi berbeda jurusan. Lalu bertukar nomor telepon, dia baru kali ini bertemu dengan orang Lampung selama di Malang dan belum masuk ke Grup whatsapp paguyuban.
****
Setelah perjalanan lumayan panjang, sampailah di terminal selanjutnya dan ternyata Bus yang tadi berangkat dari Blitar sudah sampai duluan dan menunggu lama. Bus berhenti dan pemberitahuan istirahat diberi waktu 30 menit untuk sholat dan makan.
Aku turun bus, karena katanya penumpang akan di gabung dengan bus yang keberangkatannya dari Blitar.
Sudah senang karena akan naik bus yang nyaman sampai di pelabuhan nanti, ternyata harus du gabung dengan bus tadi.
Setelah turun aku bertemu dengan Mbak yang tadi ngobrol pertama di terminal, seperti sudah lama kenal, dia mau sholat. Aku sedang berhalangan jadi dia minta tolong untuk jagakan tasnya. Aku menunggu di depan bus.
Bapak-bapak yang bertugas di terminal Grapyak!! Banyak bercandanya tenyata.
Setelah menunggu sekitar 10 menit, mbaknya sudah selesai sholat, dan kita lanjut untuk makan. Karena merasa masih ada waktu lumayan lama kita berjalan menuju rumah makan yang sudah di sediakan. Kita mengambil makanan di meja makan. Makanannya masih terlihat fresh.
Baru saja duduk dan baru makan satu suap, panggilan dari bus keluar
'BARU SATU SUAP'
"Untuk penumpang bus 001 silahkan naik kembali karena bus akan berangkat."
Aku dan Mbak yang tadi cepat-cepat mengunyah makanan dan mencoba bodo amat dengan suara yang baru saja disiarkan.
"Biar aja, Mbak. Orang tadi bilangnya 30 menit istirahat. Ini kita baru beberapa menit masa udah mau berangkat."
Ucapku
"Iya ih, ayo cepet makannya."
***
Karena aku dan mbak yang tadi nggak kunjung keluar, tiba-tiba ada suara
"Panggilan untuk Ibu Mutmainah dan Ibu Niswa untuk masuk ke dalam bus, karena perjalanan akan segera di lanjut."
Ah kesal juga, makan harus diburu-buru.
Aku dan Mbak Niswa langsung keluar menuju bus, lalu ada bapak-bapak nyeletuk
"Hoo ncene Mutmainah sue tenan." Tapi dengan nada bercanda
"Looh ya, Pak. Tadi katanya istirahatnya 30 menit. Ini belum sampe 30 menit lo." Jawabku
"Iya ini yang dari Blitar sudah nunggu lama disini."
Tetapi ternyata ada yang lebih malang dariku. Ada mas-mas yang baru saja mengambil makanan dan belum sempat makan satu sendok pun sudah di suruh naik bus.
Aku masuk, semua penuh dan tersisa kursi dibelakang supir
Aku dan mbak Niswa duduk di belakang supir. Dan yang lumayan menyebalkan adalah setiap aku bangun dari tidur, Bapak-bapak yang tadi menyambut didepan pintu masuk bus bilang:
"Lhoo Mutmainah tangi."
"Lhoo Mutmainah tangi mane."
Lho, Lho, Lho setiap aku bangun dari tidur. Perjalanan dari Malang pelabuhan merak butuh waktu kurang lebih 13 jam karena sudah ada tol.
Sekian yaa
Komentar
Posting Komentar