Menuju Bulan

Aku menjadi manusia paling egois ketika di tanya tentang karya, tentang apapun yang muncul dari kepala. Aku sulit bercerita tentang orang lain, mengulik tentang hal yang tidak aku pahami. 

Tentang apa yang keluar di kepala menjadi hal yang sangat sensitif, beberapa orang bertanya, isi dari setiap kata, karena jika dijelaskan akan terbongkar semuanya, tentang rasa senang, sedih, gemuruh, dan apapun yang terjadi pada diri. Dari segala kumpulan kata hanya tentang aku saja yang mampu ku tulis. 

Warna lain hanya memberi warna cadangan, banyak orang memberi warna baru tetapi tidak bisa merubah warna yang telah melekat dan tak bisa berubah, sememaksa apapun. 

Hampir, hampir saja. Warna yang sudah ku buat mulai di pudarkan, dan akupun mencoba menurutinya, yang terjadi adalah ketidaknyamanan, karena merasa bukan diri sendiri  yang berdiri disitu, hanya menjadi tulisan kosong tanpa nyawa. Berbeda jika menguntaikannya dengan rasa, semua nampak bernyawa dan berbeda dari yang lainnya. Ungkapan demi ungkapan, rasa demi rasa, keadaan demi keadaan tertulis dengan garis lurus tanpa ada melenceng sedikitpun. 

Pernah merasa iba dengan diri sendiri karena sulit mengakui bahwa yang tertulis adalah rasa sendiri, merasa orang lain tidak perlu tau. Dengan waktu, keadaan dan perasaan serta pikiran berubah. Membiarkan segala yang ada dinikmati banyak isi kepala, dengan berbagai argumen dan multi tafsir. 

Tidak apa, dunia tidak bisa dibungkam dengan satu tangan, apalagi hanya dengan angan. Biarkan saja mengalir, biar saja menjadi banyak tafsiran di luar sana. Karena apapun yang telah terjadi akan segera berlalu dan berubah, tentang melemah atau semakin kuat. Di dunia ini akan ada banyak hal yang bisa dirasa, menikmatinya adalah cara paling aman dari pada berlari yang pada ujungnya bertemu dengan keadaan yang itu-itu saja. Akan tetap dirasa dan akan tetap dirasa, menolak dengan keras pun yang dirasa hanya hantaman yang begitu kuat. 

Jadi biar saja, biar. Biarkan dunia bermain dengan keadaan kita, arus akan semakin deras, langit akan tetap biru, bisa saja menjadi abu kala hujan siap mengguyur, bahkan menjadi abu pun tidak melulu tentang hujan, hanya perlu jeda pada terik bumi yang semakin memanas. Perlu teduh untuk hati yang selalu bergemuruh, perlu tenang untuk diri yang selalu dikelilingi keramaian. 

Banyak hal yang akan menjadi kata, dari rasa yang akan tetap hidup selagi nyawa tetap menetap pada diri manusia. Segala takdir sudah tertulis, maka yang telah terjadi adalah takdir, hanya perlu berhati-hati apalagi urusan hati sendiri, rumit dan sulit dipahami. 

- 02april 2021

Komentar

Postingan Populer