Wajar
"Aku mencari tenang tapi yang ku datangi adalah keramaian"
Dewasa ini, katanya. Diulik lebih panjang lagi, ternyata aku masih sering berpikir dan bertanya
Kenapa harus aku?
Kenapa aku tidak seperti yang lain?
Pertanyaan tentang kenapa bisa dijawab karena adanya karena
"Karena kamu bisa dan mampu"
"Karena kamu akan mendapatkan lebih dari apa yang kamu alami"
"Karena memang hidup seperti ini, menuju setiap tangga yang ujungnya entah tidak tau dimana"
Tentang bahagia dinikmati secukupnya
Tentang kesedihan dinikmati secukupnya
Tapi terkadang yang dilakukan adalah melebihkan apa yang seharusnya dinikmati, maka yang terjadi dibalik bahagia yang berlebih adalah kesedihan yang ternyata datang tanpa ada aba-aba.
Memaklumi setiap apa yang datang
Memaklumi keadaan
Memaklumi hidup, hidup hanya tentang kata maklum
"Maklum, wajar, namanya juga manusia"
Hingga terkadang kita lupa bahwa kita bisa mengulangi kesalahan yang sebenarnya tidak diinginkan kedatangannya. Wajar, hidup memang terkadang berulang, entah yang baik entah yang buruk. Mungkin tentang apa yang sudah tertulis tidak benar menurutmu namun benar menurut pengalaman.
Terkadang bisa lupa, terkadang karena memang teledor. Hidup yang katanya punya jalan masing-masing saja bisa menjadi perbincangan yang tak kunjung usai, menikmati setiap apa yang datang dan kenyataannya tidak hanya manis ternyata juga pahit.
Tertawa tidak?
Jika tidak, berarti Tuhan yang sedang menertawakan kegelisahan kita dalam menjalani hidup.
Arah yang sudah diberi, pun terkadang masih salah arah. Wajar manusia.
Komentar
Posting Komentar