Bocah
Kau tengok jalanan itu, terik matahari membakar tubuhmu yang jenjang. kakimu melangkah cepat, tanganmu menutupi sebagian wajahmu yang terpapar panasnya bumi, keringat-keringat bercucuran menuju jalan pulang. hatimu terus menggerutu.
"kenapa tak sama dengan yang lain?" ucapnya dalam hati karena melihat yang lain bagai tuan raja tiada susah.
berjalan, menggerutu pada Tuhan, Tuhan hanya tersenyum melihat bocah kecil itu berjalan, lalu Tuhan suguhkan pemandangan yang membuat hatinya tergugah.
Perempuan separuh baya mendorong gerobak, didalamnya ada blewah dan buah-buah yang tak habis ia jajakan. mendorong melewati tanjakan, tubuhnya seperti tak berdaya namun tak mungkin meninggalkan gerobaknya yang mulai usang.
hatinya bimbang, menimbang-nimbang hati nuraninya sendiri. letihnya tiba-tiba hilang, hatinya benderang bagai lampu taman yang memberi sinar pada gelap.
Ia berjalan cepat lalu meraih gerobak dan ikut serta mendorong gerobak bersama perempuan paruh baya itu. matanya terlihat cukup lelah, tuturnya halus dan memancarkan senyum tulus.
"jangan, kau jalan saja." ucap perempuan itu dengan nada pelan
"saya sungkan." tambahnya
Bocah itu tetap memaksa ikut mendorong, hatinya dipenuhi rasa bersalah.
"jadi selama ini aku hanya merasa menjadi yang paling sengsara, saat yang ku mau tak dapat ku miliki."
Tuhan menampakan keindahan dengan cara yang berbeda, hatinya melapang, senyumnya merekah. Ia lupa bahwa di dunia ini banyak yang perlu diberi syukur.
Komentar
Posting Komentar