hidup realistis



hidup itu hanya perlu dijalani, perkara susah, senang, sedih, menangis, dan lain sebagainya, orang lain juga merasakan yang sama. bukan berarti kamu tidak boleh mengeluhkan tentang hidup. boleh boleh saja, tidak ada undang-undang yang melarang akan keluh kesah manusia


dan pada akhirnya kita akan banyak dihadapkan dengan banyak pilihan, banyak tantangan, banyak realita-realita kehidupan yang unjuk gigi di fase dewasa. harus bekerja, harus memaklumi, harus menerima, harus belajar, dan banyak keharusan lain yang kamu hanya punya pilihan, mau menjalani atau tidak. 


keputusanmu untuk tetap tidur dipagi hari pun dunia tidak akan peduli, ia akan tetap berjalan dengan semestinya, dari subuh ke pagi, pagi ke siang, siang ke sore, sore ke malam dan dengan perputaran yang sama. manusia banyak hidup dalam pikirannya sendiri, mengatur bagaimana cara kerja Tuhan dengan keinginan yang menurutnya cukup layak untuk didapatkan dengan cara yang cepat, tetapi balik lagi bahwa kita cuma manusia yang hanya perlu menerima segala takdir Tuhan


begitu banyak pertanyaan yang menghampiri dikala malam, dikala duduk sendirian, dikala semua cukup menumpuk di kepala, Ya! hanya di kepala. acapkali manusia memang seringkali sotoy akan kehidupan, tapi yaaa bolehlah sedikit sotoy, tetapi jangan mendahului takdir. 


menulis menjadi kegiatan yang kadangkala disepelekan oleh beberapa orang, katanya ia tak pandai merangkai kata, ia tak suka membaca, dan masih banyak alasan-alasan lainnya. padahal, menulis seperti ini tidak perlu banyak persiapan seperti menulis puisi yang harus sesuai dengan irama, bahkan puisi saat ini juga seringkali tak beraturan, karena memang isi kepala tidak melulu tentang hal yang runtut, seringkali berantakan, tetapi masih bisa dikendalikan. namanya manusia, seharusnya kita juga punya banyak opsi untuk menikmati kehidu-Fun, dengan bersenang-senang, bertemu dengan teman lama, menikmati kicau burung, menikmati hijaunya alam dan masih banyak hal, tetapi hidup di jaman yang sekarang butuh banyak usaha, karena kita tahu sekarang ini menikmati yang seharusnya bisa kita nikmati dengan bebas, kini harus membayar lebih untuk sekadar melihat. 


nilai tukar kini melambung tinggi, ucap terima kasih saja masih digunjing; seperti tidak adakah buah tangan lain selain ucapan terima kasih?


kita hidup dengan realita, jadi bayang-bayang yang ada di kepala boleh saja ditampis agar tak menjalar ke mana mana. 

Komentar

Postingan Populer